Golok Galonggong Jadi Tumpuan
BEBERAPA contoh golok buatan Kp. Galonggong, Desa Cilangkap, Kec. Manonjaya, Kab. Tasikmalaya.
Kerajinan penduduk Galonggong itu sudah menyebar ke berbagai daerah, baik di dalam maupun di luar negeri.* UNDANG SUDRAJAT/"PR"Ada semringah di wajah Aang Rusnandi (64). Betapa tidak, siang itu, sudah lima golok bikinannya terjual. Baginya, keadaan itu di luar kebiasaan. Pasalnya, setiap hari, rata-rata, ia hanya mampu menjual dua golok. "Alhamdulillah, hari ini, lakunya lumayan banyak," ungkapnya ketika ditemui di kediamannya, Kp. Galonggong, Desa Cilangkap, Kec. Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, pekan lalu.
Aang merupakan salah seorang dari 450 pandai besi di sana. Selama ini, Galonggong memang terkenal sebagai kampung pandai besi di Kab. Tasikmalaya. Kampung itu berjarak sembilan belas kilometer di timur Kota Tasikmalaya. Kampung itu berada di tengah-tengah, antara Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar.
Di kampung itu, dalam radius sepanjang satu kilometer, kios-kios berjajar di tepi jalan, memajang beraneka ragam hasil kerajinan warganya. Mulai dari golok, pisau, kujang, pedang, cangkul, serta senjata tajam lainnya.
Tak hanya dijual di tempat, buah karya penduduk Galonggong itu sudah menyebar ke berbagai daerah di dalam dan luar negeri, seperti Cilacap, Banyumas, Banjarsari, Ciamis, Banjar, Sumedang, serta beberapa daerah di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Bahkan, dalam kurun waktu tertentu, hasil kerajinan masyarakat setempat diekspor ke Australia dan Filipina. Semua itu berkat "jasa" para bandar.